Sejarah pengendalian
hayati
Sejarah perkembangan pengendalian hama dan dengan menggunakan agen
hayati telah diuraikan panjang lebar oleh Doutt (1964), Simmonds ddk. (1976),
dan Be Bach (1976). Awal penggunanaan agen hayati untiuk pengendalian hama di
zaman kuno mungkin dapat dilihat dari petani jeruk di Cina yang menggunakan
semut predator, Oecophylla smaragdina F., untuk mengendalikan hama pemakan daun
pohon jeruk mandarin. Petani meletakan sarang semut di pohon-pohon atau
menggunakan bambu yang dihubungkan dari satu phon ke pohon yang lain sebagai
jembatan untuk semut. Selain itu, banyak orang di zaman kuno di Prancis dan
Inggris telah mengenal penggunaan kumbang nyonya (ladybirds) dari famili
Coccinellidae sebgai predator kutu daun.
Di abad ke-15 orang-orang telah menemukan kupu-kupu kubis,
pieris rapae (L), yang diserang oleh parasit internalApantales glomeratus (L). Namun, pada saat itu banyak orang yang
tidak mengetahui peran parasit tersebut dalam menekan populasi hama kupu-kupu kubis.
Orang yang pertama memperhatikan parasit ini tahun 1602 adalah Aldrovandi. Saat
itu ia mengira bahwa kokon yang menempel pada larva kupu-kupu itu adalah telur.
Seabad kemudian seorang italia yang lain, yaitu Vallionielle, menemukan bahwa
yang dianggap telur oleh Aldrovandi sebenarnya adalah parasit-parasit yang
hidup dari larva kupu-kupu. Pada awal abad ke-19 telah diketahui bahwa serangga
entomofagus atau serangga pemakan serangga lain dapat mengendalikan level
populasi serangga lain. E. Darwin, ayah Charles Darwin, memperhatikan kupu-kupu
kubis diparasit olehApantales glomeratus. Di Jerman seorang ahli botani,
Kollar, tahun 1837 mengangkat pentingnya serangga entomofagus untuk untuk
mengendalikan hama serangga. Ia adalah orang pertama yang menggunakan istilah
musuh alami. pada tahun 1840 para ahli Prancis mencoba untuk mengendalikan
ngengat gipsi (gypsy moth)pada pohon poplar dengan menggunakan kumbang karabid,
calasoma sycophanta. Predator ini berkembang dan menetap di Amerika Serikat
serta dapat mengendalikan ngengat gipsi. Di Italia orang-orang menggunakan
kumbang rusa (stag beetle) untuk mengendalikan larva pemotong dan hama serangga
lainnya.
Asa Fitch adalah seorang ahli serangga di New York yang mempelajari
tentang pengendalian hama gandum (wheat midge). Ia mengatakan bahwa tidak
adanya musuh alami menyebabkan serangga ini berkembang menjadi hama. Pada tahun
1857, Fitch mengusulkan untuk mengintroduksi musuh alami dari Eropa. Inilah
program pengendalian hayati pertama di Amerika Serikat. Upaya Fitch juga didukung oleh Benyamin Walsh
dari Illinois yang meminta pemerintahan mengintroduksi musuh alami untuk
pengendalian hama gandum ini. Pada tahun 1870 Riley, yang adalah kepala bagian
entomologi USDA, mengirim parasit Curculio sp.. tahun 1872 Riley mengirim
tungau predator ke Prancis untuk mengendalikan phylocera anggur. Tahun 1874, coccinela
undencimpunctata yang adalah musuh alami kutu daun dari Inggris ke Selendia
Baru. Inilah sukses pertama pengirirman musuh alami antarbenua. Pada tahun
1882, trichogramma sp. dikirim dari Amerika Serikat ke Kanada untuk
mengendalikan hama gergaji (goosbery sawfly).
Pengendalian hayati modern mulai berkembang sejak keberhasilan
program pengendalian hayati untuk hama sisik pada jeruk,icerya purchasi (mask).
Hama jeruk ini pertama kali ditemukan di Kalifornia tahun 1868 dan berkembang
perlahan-lahan di daerah tersebut. Hama jeruk ini berkemvang dengan cepat dan
menghancurkan industri jeruk. Berbagai cara pengendalian telah dilakukan oleh
petani jeruk di Kalifornia untuk mengendaliakn hama sisik tersebut, tetapi semuanya
mengalami kegagalan. Pada tahun 1886 Crawford menemukan di Australia hama sisik
diparasit oleh lalat, cryptochaetum icerya . pada tahun 1887 Crawford mengirim
cryptochaetum ke Kalifornia, kemudian diperbanyak dan dilepaskan di perkebunan
jeruk. Ternyata parasitoid ini dapat berkembang dan menetap di lapangan serta
menekan populasi hama sisik jeruk.
Pada 25 Agustus 1888 Albert Koebele, seorang ahli serangga dari
Kalifornia, berangkat ke Australia. Di Adeleide Koebele menemukan bahwa, selain
cryptochaetum ( diptera), larva chrysopha dan kumbang Coccinelidae juga
mempredasi icerya purchasi,kumbang ini dikenal dengan nama kumbang vedalia,
Rodalia cardinalis, yang dikirim ke Kalifornia dan dipelihara pada pohon-pohon
jeruk yang tertutup dan terserang hama sisik. Ternyata kumbang vedalia memakan
dengan rakusnya hama sisik. Dalam waktu yang sangat singkat, yaitu satu tahun,
perkebunan jeruk yang terserang hama di bagian Selatan Kalifornia dapat
dikendalikan secara penuh oleh kumbang vedalia. Ternyata kumbang vedalia lebih
dominan di daerah beriklim panas, sedangkan parasit cryptochaetum lebih dominan
di daerah beriklim dingin. Praktik pengendalian hayati hama jeruk dengan
menggunakan kumbang vedalia merupakan salah satu program pengendalian hayati
yang sangat sukses dalam sejarah.
Keberhasilan ini membuka mata para ahli bahwa pengendalian hama
adapat dilakukan dengan menggunakaan agen-agen hayati. Berbagai kesuksesan yang
telah dicapai dengan program pengendalian hayati di antaranya adalah
pengendalian hamaeleuro canthus spiniferus pada jeruk di Jepang dengan
menggunakan parasitoid Prospaltella smithi Silv., hama sisik kelapa Aspiodiotus
destructor pada tanaman kelapa di Fiji dengan menggunakan predator Cryptognatha
nodicepts Mshll, dan masih banyak lagi.
Sejarah singkat pengendalian hayati di Indonesia
Sejarah pengendalain hayati di Indonesia
dimulai dari eksplorasi agen-agen hayati yang dilakukan oleh para peneliti dari
Amerika Serikat di Indonesia untuk pengendalian hayati penggerek batang
tebu,Rhabdoscelus obscurus di Hawai. Pada tahun 1908 F. Muir, seorang
entomologi dari Hawai, mengunjungi Indonesia dan mengoleksi parasitoid
Lixophage sphenophori, DeBach , yang
berasal dari kumbang palma sago di Ambon. Pada tahun 1925 eksplorasi musuh
alami dilakukan oleh Taylor, Tothill dan Paine ke maleysia dan Indonesia untuk
pengendalian hama ngengat kelapa,
Levuana irridescens B-B di Fiji. Para peneliti menemukan lalat
parasitoid, Ptychomya remota, sebagai
salah satu parasitoid yang berpotensi sebagai agen pengendalain hayati ngengat
kelapa.
Pengendalian hayati hama kubis, Plutella
xylostella, di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1928 pada saat Leefman
mengirim diagegma fenestralis Hlmgr dari Belanda, tetapi gagal (Vos, 1953).
Program pengendalian hayati penggerek buah kopi atau dikenal dengan nama bubuk
buah kopi, Hypothenemus hampei, pernah dilakukan dengan melepas parasitoid,
tetapi tidak berhasil ( Le Pelley,1968).
Keunggulan dan kelemahan
pengendalian hayati
Terdapat beberapa keunggulan dalam penerapan
pengendalian secara hayati.
1.
Bebas dari pengaruh
sampingan yang rusak
Musuh alami yang digunakan sebagai agen
pengendalian hayati biasanya telah diseleksi dengan seksama sehingga tidak akan
merusak keseimbangan hayati dalam sistem populasi. Banyak musuh-musuh alami
dapat secara alami menekan populasi hama sebegitu rupa sehingga tidak akakn
terjadi keguncangandalam ekosistam, yang dapat mengakibatkan goyahnya
keseimbangan alami (blance of natural). Agen hayati tidak mengeluarkan zat-zat
beracun yang dapat secara langsung membunuh organisme lain atau merusak tanaman
target atau nontarget.
2.
Memiliki derajat spesifitas
yang tinggi
Agen-agen hayati yang digunakan dalam
pengendalian hayati biasanya mempunyai derajat spesifitas yang tinggi sehingga
langsung menekan target organisme yang dikehendaki. Oleh karena itu, penelituan
awal sangat diperlukan supaya porganisme yang digunakan tidak menyerang tanaman
yang bergun abagai manusia.
3.
Biaya pengendalian
kadang-kadang relatif rendah
Biaya penelitian untuk pengendalian hayati
memang kadang-kadang pada awalnya cukup tinggi karena mungkin harus mencari
agen hayati yang tepat di tempat-tempat tertentu. Akan tetapi, biaya untuk
penemuan agen hayati yang tepat masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan
biaya puluhan juta untuk sintesis
insektisida yang baru. Setalah agen hayati yang tepat ditemukan maka
biaya pengendalian akan sangat rendah dan tanpa adanya risiko yang berarti
dalam proses penangan di lapangan tanpa dan tanpa adanya pengaruh yang
merugikan kesehatan atau keamanaan manusia dan organisme-organisme lain.
4.
Memiliki sifat-sifat yang
dapat memperbanyak diri
Setalh musuh alami dilepaskan di lapangan
maka organisme itu akan berbiak dan berkembang sendiri di lapangan, tanpa
adanya pelepasan berulang-ulang sebagaimana dengan cara pengendalian kimia.
Agen hayati tersebut akan berkembang dan mengikuti fluktuasi populasi inangnya.
5.
Pengendalian bersifat
permanen
Setelah berkembang di lapangan, agen hayati
tersebut akan secara permanen menekan populasi hama secara terus menerus dan
akan tetap menjaga keseimbangan hayati dalam ekosistem tersebut.
6.
Mudah untuk diterapkan
Agen hayati dapat dibeli di tempat-tempat
tertentu dan dapat secara langsung dilepaskan di lapangan pada waktu-waktu
tertentu dan tanpa membutuhkan keterampilan khusus, terutama setelah diketehaui
cara penerapan yang tepat.
7.
Agen hayati mencari
musuhnya
Serangga-serangga parasitoid dan predator
yang dilepaskan di lapangan dengan aktif akan mencari musuh-musuhnya. Serangga
parasitoid biasanya dapat menemukan hama serangga dengan menggunakan kemampuan
alat peraba atau pencium.
Selain
keunggulan terdapat beberapa kelemahan dalam metode pengendalain hayati
1.
Kemampuan agen hayati
menekan populasi hama terbatas
Jika populasi hama terlalu tinggi maka agen
hayati yang mempunyai kemampuan reproduksi yang rendah tidak akan dapat
mengejar populasi hama.
2.
Pencarian agen hayati yang
tepat cukup rumit
Dalam hal ini maka baik dana awal maupun
tenaga terampil sangat diperlukan untuk melaksanakan penelitian. Kadang
diperlukan penelitian tentang biologi dan ekologi dari agen biotik dan hama itu
sendiri sebelum pengendalian hayati untuk satu jenis hama diterapkan.
3.
Tidak semua agen biotik
dapat dibiakan di laboratorium
Tidak semua agen hayati dapat dikembangkan
di laboratorium karena mungkin membutuhkan iklim mikro yang sangat tepat bagi
pertumbuhan dan perkembangan agen hayati tersebut.
4.
Sukses hanya terbatas pada
daerah-daerah dan jenis hama tertentu
Ada pendapat yang mengatakan bahwa
pengendalian hayati biasanya hanya sukses di tempat-tempat tertentu. Demikian
pula dikatakan bahwa suskes pengendalian hama secara hayati hanya untuk
jenis-jenis hama yang menyerang tanaman tahunan. Hal ini telah di tentang oleh DeBach (1964) dan
Wilson dan Huffaker (1976). Mereka mengemukakan bahwa telah banyak sukses dalam
pengedalian hayati dan sukses ini telah terlihat untuk berbagai jenis hama
tanaman dan habitat yang berbeda.
5.
Pengendalian hayati
memerlukan waktu yang lam
Metode pengedalian hayati tidak dapat
digunakan sebagai suatu cara pengendalain secara langsung yang dapat membunuh
hama dalam waktu singkat, seperti halnya dengan penggunaan isektisida yang
dapat dengan seketika membunuh hama.