Rabu, 23 Januari 2019

Sejarah pengendalian hayati

Sejarah pengendalian hayati
Sejarah perkembangan pengendalian hama dan dengan menggunakan agen hayati telah diuraikan panjang lebar oleh Doutt (1964), Simmonds ddk. (1976), dan Be Bach (1976). Awal penggunanaan agen hayati untiuk pengendalian hama di zaman kuno mungkin dapat dilihat dari petani jeruk di Cina yang menggunakan semut predator, Oecophylla smaragdina F., untuk mengendalikan hama pemakan daun pohon jeruk mandarin. Petani meletakan sarang semut di pohon-pohon atau menggunakan bambu yang dihubungkan dari satu phon ke pohon yang lain sebagai jembatan untuk semut. Selain itu, banyak orang di zaman kuno di Prancis dan Inggris telah mengenal penggunaan kumbang nyonya (ladybirds) dari famili Coccinellidae sebgai predator kutu daun.
Di abad ke-15 orang-orang telah menemukan kupu-kupu kubis, pieris rapae (L), yang diserang oleh parasit internalApantales glomeratus  (L). Namun, pada saat itu banyak orang yang tidak mengetahui peran parasit tersebut dalam menekan populasi hama kupu-kupu kubis. Orang yang pertama memperhatikan parasit ini tahun 1602 adalah Aldrovandi. Saat itu ia mengira bahwa kokon yang menempel pada larva kupu-kupu itu adalah telur. Seabad kemudian seorang italia yang lain, yaitu Vallionielle, menemukan bahwa yang dianggap telur oleh Aldrovandi sebenarnya adalah parasit-parasit yang hidup dari larva kupu-kupu. Pada awal abad ke-19 telah diketahui bahwa serangga entomofagus atau serangga pemakan serangga lain dapat mengendalikan level populasi serangga lain. E. Darwin, ayah Charles Darwin, memperhatikan kupu-kupu kubis diparasit olehApantales glomeratus. Di Jerman seorang ahli botani, Kollar, tahun 1837 mengangkat pentingnya serangga entomofagus untuk untuk mengendalikan hama serangga. Ia adalah orang pertama yang menggunakan istilah musuh alami. pada tahun 1840 para ahli Prancis mencoba untuk mengendalikan ngengat gipsi (gypsy moth)pada pohon poplar dengan menggunakan kumbang karabid, calasoma sycophanta. Predator ini berkembang dan menetap di Amerika Serikat serta dapat mengendalikan ngengat gipsi. Di Italia orang-orang menggunakan kumbang rusa (stag beetle) untuk mengendalikan larva pemotong dan hama serangga lainnya.
Asa Fitch adalah seorang ahli serangga di New York yang mempelajari tentang pengendalian hama gandum (wheat midge). Ia mengatakan bahwa tidak adanya musuh alami menyebabkan serangga ini berkembang menjadi hama. Pada tahun 1857, Fitch mengusulkan untuk mengintroduksi musuh alami dari Eropa. Inilah program pengendalian hayati pertama di Amerika Serikat.  Upaya Fitch juga didukung oleh Benyamin Walsh dari Illinois yang meminta pemerintahan mengintroduksi musuh alami untuk pengendalian hama gandum ini. Pada tahun 1870 Riley, yang adalah kepala bagian entomologi USDA, mengirim parasit Curculio sp.. tahun 1872 Riley mengirim tungau predator ke Prancis untuk mengendalikan phylocera anggur. Tahun 1874, coccinela undencimpunctata yang adalah musuh alami kutu daun dari Inggris ke Selendia Baru. Inilah sukses pertama pengirirman musuh alami antarbenua. Pada tahun 1882, trichogramma sp. dikirim dari Amerika Serikat ke Kanada untuk mengendalikan hama gergaji (goosbery sawfly).
Pengendalian hayati modern mulai berkembang sejak keberhasilan program pengendalian hayati untuk hama sisik pada jeruk,icerya purchasi (mask). Hama jeruk ini pertama kali ditemukan di Kalifornia tahun 1868 dan berkembang perlahan-lahan di daerah tersebut. Hama jeruk ini berkemvang dengan cepat dan menghancurkan industri jeruk. Berbagai cara pengendalian telah dilakukan oleh petani jeruk di Kalifornia untuk mengendaliakn hama sisik tersebut, tetapi semuanya mengalami kegagalan. Pada tahun 1886 Crawford menemukan di Australia hama sisik diparasit oleh lalat, cryptochaetum icerya . pada tahun 1887 Crawford mengirim cryptochaetum ke Kalifornia, kemudian diperbanyak dan dilepaskan di perkebunan jeruk. Ternyata parasitoid ini dapat berkembang dan menetap di lapangan serta menekan populasi hama sisik jeruk.
Pada 25 Agustus 1888 Albert Koebele, seorang ahli serangga dari Kalifornia, berangkat ke Australia. Di Adeleide Koebele menemukan bahwa, selain cryptochaetum ( diptera), larva chrysopha dan kumbang Coccinelidae juga mempredasi icerya purchasi,kumbang ini dikenal dengan nama kumbang vedalia, Rodalia cardinalis, yang dikirim ke Kalifornia dan dipelihara pada pohon-pohon jeruk yang tertutup dan terserang hama sisik. Ternyata kumbang vedalia memakan dengan rakusnya hama sisik. Dalam waktu yang sangat singkat, yaitu satu tahun, perkebunan jeruk yang terserang hama di bagian Selatan Kalifornia dapat dikendalikan secara penuh oleh kumbang vedalia. Ternyata kumbang vedalia lebih dominan di daerah beriklim panas, sedangkan parasit cryptochaetum lebih dominan di daerah beriklim dingin. Praktik pengendalian hayati hama jeruk dengan menggunakan kumbang vedalia merupakan salah satu program pengendalian hayati yang sangat sukses dalam sejarah.
Keberhasilan ini membuka mata para ahli bahwa pengendalian hama adapat dilakukan dengan menggunakaan agen-agen hayati. Berbagai kesuksesan yang telah dicapai dengan program pengendalian hayati di antaranya adalah pengendalian hamaeleuro canthus spiniferus pada jeruk di Jepang dengan menggunakan parasitoid Prospaltella smithi Silv., hama sisik kelapa Aspiodiotus destructor pada tanaman kelapa di Fiji dengan menggunakan predator Cryptognatha nodicepts Mshll, dan masih banyak lagi.
Sejarah singkat pengendalian hayati di Indonesia
Sejarah pengendalain hayati di Indonesia dimulai dari eksplorasi agen-agen hayati yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat di Indonesia untuk pengendalian hayati penggerek batang tebu,Rhabdoscelus obscurus di Hawai. Pada tahun 1908 F. Muir, seorang entomologi dari Hawai, mengunjungi Indonesia dan mengoleksi parasitoid Lixophage  sphenophori, DeBach , yang berasal dari kumbang palma sago di Ambon. Pada tahun 1925 eksplorasi musuh alami dilakukan oleh Taylor, Tothill dan Paine ke maleysia dan Indonesia untuk pengendalian hama ngengat kelapa,  Levuana irridescens B-B di Fiji. Para peneliti menemukan lalat parasitoid,  Ptychomya remota, sebagai salah satu parasitoid yang berpotensi sebagai agen pengendalain hayati ngengat kelapa.
Pengendalian hayati hama kubis, Plutella xylostella, di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1928 pada saat Leefman mengirim diagegma fenestralis Hlmgr dari Belanda, tetapi gagal (Vos, 1953). Program pengendalian hayati penggerek buah kopi atau dikenal dengan nama bubuk buah kopi, Hypothenemus hampei, pernah dilakukan dengan melepas parasitoid, tetapi tidak berhasil ( Le Pelley,1968).
Keunggulan dan kelemahan pengendalian hayati
Terdapat beberapa keunggulan dalam penerapan pengendalian secara hayati.
1.      Bebas dari pengaruh sampingan yang rusak
Musuh alami yang digunakan sebagai agen pengendalian hayati biasanya telah diseleksi dengan seksama sehingga tidak akan merusak keseimbangan hayati dalam sistem populasi. Banyak musuh-musuh alami dapat secara alami menekan populasi hama sebegitu rupa sehingga tidak akakn terjadi keguncangandalam ekosistam, yang dapat mengakibatkan goyahnya keseimbangan alami (blance of natural). Agen hayati tidak mengeluarkan zat-zat beracun yang dapat secara langsung membunuh organisme lain atau merusak tanaman target atau nontarget.
2.      Memiliki derajat spesifitas yang tinggi
Agen-agen hayati yang digunakan dalam pengendalian hayati biasanya mempunyai derajat spesifitas yang tinggi sehingga langsung menekan target organisme yang dikehendaki. Oleh karena itu, penelituan awal sangat diperlukan supaya porganisme yang digunakan tidak menyerang tanaman yang bergun abagai manusia.
3.      Biaya pengendalian kadang-kadang relatif rendah
Biaya penelitian untuk pengendalian hayati memang kadang-kadang pada awalnya cukup tinggi karena mungkin harus mencari agen hayati yang tepat di tempat-tempat tertentu. Akan tetapi, biaya untuk penemuan agen hayati yang tepat masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya puluhan juta untuk sintesis  insektisida yang baru. Setalah agen hayati yang tepat ditemukan maka biaya pengendalian akan sangat rendah dan tanpa adanya risiko yang berarti dalam proses penangan di lapangan tanpa dan tanpa adanya pengaruh yang merugikan kesehatan atau keamanaan manusia dan organisme-organisme lain.
4.      Memiliki sifat-sifat yang dapat memperbanyak diri
Setalh musuh alami dilepaskan di lapangan maka organisme itu akan berbiak dan berkembang sendiri di lapangan, tanpa adanya pelepasan berulang-ulang sebagaimana dengan cara pengendalian kimia. Agen hayati tersebut akan berkembang dan mengikuti fluktuasi populasi inangnya.
5.      Pengendalian bersifat permanen
Setelah berkembang di lapangan, agen hayati tersebut akan secara permanen menekan populasi hama secara terus menerus dan akan tetap menjaga keseimbangan hayati dalam ekosistem tersebut.
6.      Mudah untuk diterapkan
Agen hayati dapat dibeli di tempat-tempat tertentu dan dapat secara langsung dilepaskan di lapangan pada waktu-waktu tertentu dan tanpa membutuhkan keterampilan khusus, terutama setelah diketehaui cara penerapan yang tepat.
7.      Agen hayati mencari musuhnya
Serangga-serangga parasitoid dan predator yang dilepaskan di lapangan dengan aktif akan mencari musuh-musuhnya. Serangga parasitoid biasanya dapat menemukan hama serangga dengan menggunakan kemampuan alat peraba atau pencium.
Selain keunggulan terdapat beberapa kelemahan dalam metode pengendalain hayati
1.      Kemampuan agen hayati menekan populasi hama terbatas
Jika populasi hama terlalu tinggi maka agen hayati yang mempunyai kemampuan reproduksi yang rendah tidak akan dapat mengejar populasi hama.
2.      Pencarian agen hayati yang tepat cukup rumit
Dalam hal ini maka baik dana awal maupun tenaga terampil sangat diperlukan untuk melaksanakan penelitian. Kadang diperlukan penelitian tentang biologi dan ekologi dari agen biotik dan hama itu sendiri sebelum pengendalian hayati untuk satu jenis hama diterapkan.
3.      Tidak semua agen biotik dapat dibiakan di laboratorium
Tidak semua agen hayati dapat dikembangkan di laboratorium karena mungkin membutuhkan iklim mikro yang sangat tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan agen hayati tersebut.
4.      Sukses hanya terbatas pada daerah-daerah dan jenis hama tertentu
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pengendalian hayati biasanya hanya sukses di tempat-tempat tertentu. Demikian pula dikatakan bahwa suskes pengendalian hama secara hayati hanya untuk jenis-jenis hama yang menyerang tanaman tahunan. Hal ini  telah di tentang oleh DeBach (1964) dan Wilson dan Huffaker (1976). Mereka mengemukakan bahwa telah banyak sukses dalam pengedalian hayati dan sukses ini telah terlihat untuk berbagai jenis hama tanaman dan habitat yang berbeda.
5.      Pengendalian hayati memerlukan waktu yang lam
Metode pengedalian hayati tidak dapat digunakan sebagai suatu cara pengendalain secara langsung yang dapat membunuh hama dalam waktu singkat, seperti halnya dengan penggunaan isektisida yang dapat dengan seketika membunuh hama.

Senin, 07 Januari 2019

Tugas Kliping


Nama : Fransiskus Suwandi syukur
Nim : 2016 610 254
1.       Nama: Jamur Trichoderma sp
OPT :dapat mengendalikan penyakit layu atau bercak daun yang biasa meyerang tanaman pangan dan hortikultura.
 
Ket:     Trichoderma sp bersifat antagonis terhadap beberapa pathogen tular tanah seperti fusarium monoliforme dan sclerotium rolfsi. Trichoderma sp juga mempunyai kemampuan sebagai decomposer dalam pembuatan pupuk organic.

2.      Nama:  Bakteri Corynebacterium sp
OPT :diantaranya penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas sp, plasmodiophora brassicae (akar gada) pada kubis, bercak daun pada tanaman jagung, layu bakteri pada tanaman pisang.
 
Ket:     Bakteri Corynebacterium sp. merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis, yang dapat mengendalikan beberapa jenis OPT.

3.      Nama: Bacillus thuringiensis (Bt)
OPT : menghasilkan protein yang beracun bagi serangga.
 
Ket : Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan dan hortikultura, Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik sehingga tidak mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.

4.      Nama : Beauveria bassiana
OPT : efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens).
 
Ket : Beauveria bassiana merupakan cendawan entomopatogen yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga, lebih dari 175 jenis serangga hama menjadi inang jamur ini.

5.      Nama : Pseudomonas Fluorescens
OPT : efektif untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat serta mampu menekan intensitas penyakit moler pada tanaman bawang merah.
 
Ket : Bakteri P. fluorescens dapat memberikan pengaruh menguntungkan terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, yaitu sebagai "Plant Growth Promoting Rhizobacteria" (PGPR). Menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan pathogen.

6.      Nama : Metarhizium anisopliea
OPT :  mampu menginfeksi hama yang mempunyai tipe mulut menusuk dan mengisap, yaitu Riptortus linearis baik stadia nimfa maupun imago. Selain itu, M. anisopliae juga mampu menginfeksi hama yang mempunyai tipe mulut menggigit seperti S. litura.
 
Ket : M. anisopliae adalah salah satu cendawan entomopatogen yang termasuk dalam divisi Deuteromycotina: Hyphomycetes. Cendawan ini biasa disebut dengan green muscardine fungus dan tersebar luas di seluruh dunia. Cendawan ini bersifat parasit pada beberapa jenis serangga dan bersifat saprofit di dalam tanah dengan bertahan pada sisa-sisa tanaman.


7.      Nama : Verticillium lecanii
OPT : membasmi kutu kebul pada tanaman hortikultura, juga membasmi wereng pada tanaman padi.

Ket : Kutu kebul adalah hama utama yang membonceng masuknya virus gemini yang menyebabkan tanaman kehilangan klorofil hingga tanaman menjadi kerdil dan hasil panen menurun.

jenis penyakit yang menghasilkan satu siklus infeksi permusim

Pada umunya ada tiga jenis penyakit tanaman yang cenderung menghasilkan hanya satu siklus infeksi per musim tanam, yaitu: 1.     Penyakit...