DASAR-DASAR
PEMODELAN DALAM MEMPELAJARI
EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT TUMBUHAN
1.
PENGERTIAN
DAN PENGGOLONGAN MODEL
a. Pengertian
Model
Epidemi
sebagai suatu sistem terdiri atas sub-sistem dan sub-sistem terdiri atas komponen-komponen
yang saling berinteraksi dalam hubungan rangsangan-tanggapan. Hubungan
rangsangan-tanggapan yang terjadi dalam epidemi penyakit tumbuhan sangatlah kompleks,
tetapi untuk memahami suatu epidemi seseorang tidak harus memahami semua interaksi
yang terjadi melainkan hanya interaksi yang menentukan bentuk perubahan yang terjadi.
Dengan memahami ciri yang menonjol dari suatu epidemi maka diharapkan diperoleh
gambaran mengenai epidemi yang bersangkutan. Ciri-ciri menonjol tersebut
berfungsi untuk membangun abstraksi mengenai epidemi yang sedang dihadapi.
Salah
satu sub-sistem dari daur infeksi, misalnya, adalah proses infeksi. Pada proses
infeksi tersebut terjadi sejumlah hubungan rangsangan-tanggapan, beberapa di
antaranya rangsangan yang disebabkan oleh faktor suhu, kelembaban udara,
periode kebasahan permukaan daun, dan sebagainya. Di antara semua faktor
rangsangan tersebut yang mempunyai hubungan yang paling menonjol dalam
menentukan keberhasilan infeksi adalah periode kebasahan permukaan daun. Dengan
demikian, untuk memahami proses infeksi seseorang tidak perlu memahami pengaruh
semua faktor rangsangan terhadap infeksi, melainkan cukup dengan memfokuskan
perhatian pada faktor periode kebasahan permukaan daun. Dengan memahami hubungan
periode kenasahan permukaan daun dengan jumlah lesi yang terjadi di permukaan daun
maka seseorang dapat mengabstraksikan terjadinya proses infeksi.
Pengabstraksian atau perepresentasian suatu realitas secara lebih sederhana
atau penganalogian sesuatu yang benarbenar ada disebut pemodelan, sedangkan
hasilnya adalah model. Model bukan merupakan duplikat dari realitas melainkan
hanya merupakan representasi yang amat sangat lebih sederhana. Perhatikan bahwa
dalam pengertian pemodelan maupun model tidak ada kata atau istilah matematika,
statistika, atau komputer seperti yang umumnya dibayangkan oleh para pihak awam
mengenai model.
b. Penggolongan
Model
Model
dapat dipilah-pilah secara skematis. Pertama-tama model dibedakan menjadi model
mental dan model nyata (tangible). Model mental merupakan citra mental mengenai
bagaimana sesuatu dibayangkan ada atau terjadi. Contohnya adalah bayangan
mengenai jamur yang mungkin berbeda antara yang dibayangkan oleh seorang pakar
penyakit tumbuhan yang dibayangkan oleh seorang pakar mikologi. Model nyata merupakan
citra mental yang ditransformasikan ke dalam bentuk eksplisit, dibedakan
menjadi model fisik dan model abstrak. Model fisik merupakan reproduksi dari
suatu realitas secara lebih sederhana menggunakan medium fisik yang sama atau
serupa. Contoh model fisik adalah pesawat terbang mainan, boneka, atau model
spora jamur. Model abstrak merupakan simbolisasi dari bentuk atau fungsi suatu
realitas secara non-fisik, dibedakan menjadi model kualitatif dan model
kuantitatif.
Model
kualitatif merepresentasikan keadaan atau ciri terpenting dari suatu relitas,
sedangkan model kuantitatif merepresentasikan realitas dengan menggunakan
notasi dan simbol-simbol matematika atau statistika. Contoh model kualitatif
adalah daur infeksi. Model matematik berbeda dengan model statistik dalam hal
pendekatan, matematika menggunakan pendekatan deduktif sedangkan statistika
menggunakan pendekatan induktif. Keduanya merupakan kelas model yang sangat
penting dalam epidemiologi penyakit tumbuhan karena matematika (dan khususnya
statistika) mempunyai kemampuan untuk mengekstraksi dari dunia nyata pernyataan
sederhana mengenai proses atau struktur dasar, dibandingkan hanya dengan
mencantumkannya sebagai data semata-mata (Jeger, 1986).
2.
MODEL
KUANTITATIF DALAM EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN
a. Relevansi
dan Arti Penting Model Kuantitatif
Epidemiologi
penyakit tumbuhan menitikberatkan perhatian pada perubahan keadaan penyakit
pada aras populasi sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang ditimbulkan oleh
berbagai faktor lingkungan.Tanggapan yang terjadi dapat dinyatakan secara
kualitatif dalam bentuk uraian mengenai apa yang terjadi. Misalnya,
perkecambahan spora sebagai tanggapan terhadap suhu dapat diterangkan dengan
menyatakan bahwa pada suhu rendah tertentu sporan tidak berkecambah dan pada
suhu tinggi tertentu spora akan mati. Uraian semacam ini cukup memadai untuk
tujuan tertentu, tetapi kurang memadai untuk berbagai tujuan lain. Untuk tujuan
pengendalian penyakit misalnya, agar dapat dicapai pengendalian yang efektif
dan efisien, perlu ditentukan pada suhu berapa sebagian besar spora tidak
berkecambah. Mematikan semua spora memang dapat dilakukan dengan meningkatkan
suhu, tetapi penggunaan suhu tinggi untuk menjamin terbunuhnya semua spora
tentu memerlukan biaya sehingga menjadi kurang efisien.
Epidemiologi
penyakit tumbuhan dituntut untuk menjadi semakin kuantitatif. Hal ini tidak
mengherankan mengingat, seiring dengan perkembangan komputer dewasa ini, orang
akan semakin terdorong berpikir secara kuantitatif pula. Orang dengan pola
berpikir kuantitatif tidak akan puas dengan pernyataan, misalnya, penyakit akan
meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah inokulum. Orang akan bertanya,
misalnya, jika dosis fungisida dilipatgandakan menjadi dua kali, berapa kali
severitas atau keparahan penyakit dapat diturunkan dan kehilangan hasil tanaman
dapat dikurangi dibandingkan dengan dosis semula. Uraian bahwa semakin tinggi
dosis fungisida maka akan semakin efektif mengendalikan penyakit atau dosis
tinggi mengakibatkan severitas atau keparahan penyakit yang lebih rendah tidak
dapat digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai dosis yang tepat agar
pengendalian penyakit menguntungkan petani.
b. Penggolongan
Model Kuantitatif
Sebagai
contoh model matematik, perhatikan persamaan sederhana berikut:
Y
= 0 + 1X [4.1a]
Yi
= 0 + 1Xi + i [4.1b]
Pers. [4.1a], hubungan antara X dan Y bersifat
pasti, artinya untuk setiap nilai X terdapat hanya satu nilai Y. Oleh karena
itu, model matematik juga disebut model deterministik. Pada pihak lain, pada
Pers. [4.1b] hubungan antara X dan Y bersifat tidak pasti karena untuk setiap
nilai X terdapat bagian yang tidak dapat dijelaskan oleh Y. Bagian tersebut
disebut bagian galat (error term) dan dilambangkan I sebagaimana tampak sebagai
pembeda antara Pers. [4.1a] dan Pers. [4.1b]. Pada Pers. [4.1b], Y disebut
peubah acak karena merupakan hasil dari fenomena yang bervariasi dan model
semacam ini disebut model statistik atau model stokastik. Namun perlu
diperhatikan bahwa untuk tujuan kepraktisan, model statistik tidak selalu
dituliskan lengkap dengan bagian galatnya.
Model
statistik yang juga disebut model stokastik adalah model probabilistik. Dalam
hal ini, peubah tidak bebas menyatakan peluang terjadinya suatu kejadian,
misalnya peluang spora berkecambah. Salah satu di antaranya adalah distribusi
statistik atau kadang-kadang disebut distribusi peluang atau fungsi densitas
peluang.
Model
matematik dan statistik sebagai model kuantitatif diklasifikasikan dengan
berbagai cara, misalnya berdasarkan sifatnya, penggunaannya, dan pembuatannya.Berdasarkan
linearitas dan non-linearitas parameternya; model matematik dan statistik dapat
diklasifikasikan menjadi model linier dan model non-linier.
Model
statistik dapat dibedakan berdasarkan pendekatan yang digunakan untuk melakukan
penyuaian data menjadi model empiris, korelatif, atau deskriptif dan model
mekanistik, eksplanatori, teoritis, biologis, atau kadang-kadang juga fisis.
Model empiris, korelatif, atau deskriptif diperoleh dengan menyuai data dengan
menggunakan model regresi tertentu tanpa disertai alasan teoritis tertentu
selain semata-mata kemampuan data untuk menerangkan variasi data. Sebaliknya
model mekanistik, eksplanatori, teoritis, biologis, atau fisis ditentukan
dengan menerapkan teori tertentu untuk menentukan model yang akan digunakan
untuk menyuai data.
3.
PENERAPAN
PEMODELAN DALAM EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN
a. Taraf
Kompleksitas Pemodelan
Penerapan
pemodelan kuantitatif dalam epidemiologi penyakit tumbuhan dilakukan pada dua
taraf kompleksitas yang berbeda, yaitu pemodelan analitis dan pemodelan
simulasi (simulation modelling). Kedua tingkatan pemodelan tersebut
masing-masing mempunyai tujuan dan langkah-langkah pengembangan yang berbeda.
Pemodelan
analitis dilakukan untuk menerangkan satu peubah dengan satu atau beberapa peubah
lain tanpa melibatkan langkah iteratif tertentu dalam mengoperasikan model yang
dihasilkan. Dalam hal ini, jumlah peubah yang terlibat dalam model tidak
terlalu banyak. Komputer diperlukan untuk merumuskan dan mengevaluasi model,
tetapi tidak selalu diperlukan dalam mengoperasikan model yang telah berhasil
dirumuskan. Pada pihak lain, pemodelan simulasi dilakukan dengan melibatkan
banyak peubah dalam konteks sistem. Pelibatan banyak peubah dilakukan dengan
melakukan penggabungan beberapa model analitis dengan menggunakan pola berpikir
Bolean. Komputer diperlukan untuk merumuskan dan mengevaluasi setiap model
analitis yang menjadi komponen model simulasi maupun untuk mengoperasionalkan
model. Operasionalisasi model memerlukan langkah iteratif tertentu yang diintegrasikan
ke dalam model melalui pemrograman komputer.
b. Pemodelan
Analitik
Perumusan
suatu model analitik dimulai dengan menentukan hubungan yang akan dimodelkan
(dibuatkan model). Untuk menentukan suatu hubungan tertentu yang akan
dimodelkan, terlebih dahulu perlu dilakukan kajian kepustakaan mengenai
hubungan yang paling menentukan karakteristik suatu proses. Misalnya, proses
infeksi yang disebabkan oleh jamur tertentu pada suatu tanaman dapat
dipengaruhi oleh suhu, kelembaban udara, atau periode kebasahan permukaan daun.
Di daerah tropika, suhu dan kelembaban cenderung tidak banyak berubah sehingga
kurang berpengaruh terhadap proses infeksi. Dengan demikian, dipilih hubungan
periode kebasahan permukaan daun dan tingkat infeksi sebagai hubungan yang
dipilih untuk memodelkan proses infeksi.
Jika
telah ditentukan hubungan yang akan dimodelkan maka langkah selanjutnya adalah
menentukan pendekatan pemodelan yang akan digunakan, apakah pendekatan empirik
atau mekanistik. Untuk maksud tersebut, kembali harus dilakukan studi
kepustakaan mengenai hubungan tersebut untuk menentukan apakah ada model
biologis tertentu yang dapat digunakan. Artinya, apakah ada model yang dapat
memberikan keterangan biologis mengenai suatu hubungan. Jika tidak ada maka
pendekatan yang digunakan adalah pendekatan empirik.
Dari
dua pendekatan tersebut, yang manapun yang akhirnya dipilih, pada akhirnya diperlukan
data. Untuk maksud tersebut diperlukan penelitian, baik berupa percobaan maupun
survai. Pada kasus hubungan antara periode kebasahan permukaan daun dengan
tingkat infeksi maka yang harus dilakukan untuk memperoleh data adalah percobaan.
Jika seseorang ingin memodelkan hubungan antara keparahan penyakit dengan tingkat
kehilangan hasil, misalnya, maka data yang diperlukan dapat dikumpulkan melalui
percobaan maupun survai.
Setelah
model diestimasi parameter-parameternya maka langkah berikut yang harus dilakukan
adalah melakukan evaluasi model. Evaluasi dilakukan dengan memeriksa:
1. Signifikansi
model, dalam hal ini dilakukan dengan memriksa hasil uji F terhadap model yang
disuai, apakah sangat nyata (p<0,01), nyata (p<0.05), atau tidak nyata
(p>0,05). Suatu model dipilih jika dapat menyuai data secara nyata atau
sangat nyata.
2. Signifikansi
parameter model, dalam hal ini diperiksa signifikansi parameter model terhadap
0 sebab jika tidak berbeda nyata terhadap nol berarti parameter tersebut tidak
perlu ada. Pemeriksanaan dilakukan dengan melihat hasil uji t setiap parameter
model, apakah sangat nyata (p<0,01), nyata (p<0.05), atau tidak nyata
(p>0,05). Jika tidak nyata maka parameter tersebut tidak perlu ada dan oleh
karenanya model yang sesuai untuk data bukanlah model yang disuai terhadap
data.
3. Koefisien
determinasi model, dalam hal ini tidak terdapat kriteria tertentu tetapi model
yang dipilih adalah yang mempunyai koefisien determinasi yang lebih tinggi
dengan ketentuan bahwa model tersebut dapat menerangkan data secara nyata dan
parameter-parameternya juga berbeda nyata terhadap 0.
4. Pola
sebaran sisaan model, dalam hal ini sisaan harus tersebar di sekitar garis
prediksi secara acak atau tidak membentuk pola tertentu.
c. Pemodelan
Simulasi
Pemodelan
simulasi atau secara singkat simulasi merupakan perancangan model untuk
memahami perilaku suatu sistem atau untuk mengevaluasi berbagai strategi
pengelolaan sistem. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, suatu model
simulasi terdiri atas sejumlah submodel yang mewakili berbagai komponen sistem.
Pemodelan simulasi dengan demikian merupakan bagian dari analisis sistem yang
merupakan pendekatan yang digunakan untuk memahami hubungan sebab-akibat
berganda sebagaimana terjadi dalam epidemi penyakit tumbuhan. Mengingat
simulasi melibatkan banyak hubungan antar peubah maka langkah penting dalam
pengembangan model simulasi atau simulator adalah menyajikan hubungan dalam
suatu diagram yang dikenal sebagai diagram simulasi.
Penyusunan
model simulasi dilakukan dengan menyusun sub-model dengan pendekatan dan
langkah-langkah sebagaimana pada penyusunan model analitik. Setelah setiap
model analitik dievaluasi lalu diintegrasikan melalui pemrograman komputer
untuk menyusun model simulasi maka dilakukan verifikasi model untuk menentukan
apakah model bekerja sebagaimana yang diharapkan. Langkah terakhir yang lazim
dilakukan dalam pemodelan simulasi adalah validasi model yang dilakukan dengan
memasukkan data lapangan ke dalam simulasi dan membandingkan hasil smulasi
dengan keadaan epidemi yang terjadi di lapangan.
Pada
saat ini sudah banyak simulator yang dikembangkan untuk berbagai macam penyakit
pada tanaman yang berbeda. Sebagian simulator dikembangkan sekedar untuk memudahkan
pemahaman holistik terhadap epidemi, sebagian lebih maju selangkah untuk
mengendalikan epidemi yang sedang terjadi. Uraian lebih mendalam mengenai
pemodelan simulasi akan diberikan dalam bab mengenai prakiraan dan simulasi
epidemi penyakit tumbuhan. Ketika simulasi mulai dikembangkan pada akhir tahun
1960-an dan awal tahun 1070-an, terjadi euforia mengenai dampak yang akan
ditimbulkannya terhadap perkembangan epidemiologi penyakit tumbuhan. Namun
dalam perkembangan selanjutnya, banyak simulator yang hanya dikembangkan dan
dipublikasikan dan setelahnya tidak digunakan. Salah satu kritik yang tajam
terhadap pemodelan simulasi diberikanm justeru oleh Vanderplank (1982) dengan
menyatakan pemodelan simulasi tidak mungkin akurat karena penggabungan
sub-komponen akan disertai dengan penggabungan kesalahan yang menyertai setiap
sub-komponen. Meskipun demikian, pemodelan simulasi tetap bermanfaat sebagai wahana
untuk memperoleh pemahaman holistik terhadap epidemi sebagai sistem yang
kompleks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar