Rabu, 20 Maret 2019

paper epidemiologi

TUGAS PAPER
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TAN. LAH. KERING
Description: C:\Users\ata lato\Pictures\logo uniflor.JPG






OLEH
FRANSISKUS S. SYUKUR
NIM : 2016 610 254




PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
ENDE


2019

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Fenomena dimana patogen menyebar dan menyerang banyak individu dalam suatu populasi pada area yang relatif luas dan dalam waktu yang relatif singkat disebut epidemik. Epidemik sering pula didefinisikan sebagai peningkatan serangan penyakit pada suatu populasi. Cabang ilmu penyakit tanaman (fitopatologi) yang membahas mengenai epidemik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya disebut epidemiologi yang biasa pula disebut epifitotik. Epidemik sebenarnya setiap tahunnya terjadi pada kebanyakan tanaman diseluruh dunia, hanya cakupannya terbatas dan menyebabkan kehilangan yang tidak berarti karena dibatasi oleh baik faktor-faktor alami maupun penyemprotan pestisida atau teknik pengendalian lainnya. Akan tetapi kadang kala ada epidemik yang terjadi secara tiba-tiba dengan tingkat serangan yang dahsyat pada species tanaman tertentu, sehingga sukar untuk dikendalian. Berikut diberikan satu contoh epidemik penyakit tanaman yang telah menyebabkan kerugian besar pada petani dan merupakan musibah besar bagi suatu negara.
2. Tujuan
menyoroti peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi epidemiologi, mulai dari konsep-konsep epidemiologi yang dikemukakan Hippocrates, peristiwa wabah yang disebut The Black Death, hingga penemuan desain baru riset epidemiologi pada pertengahan abad ke 20, yakni desain studi kasus kontrol dan kohor, untuk menjawab masalah pergeseran pola penyakit infeksi ke arah penyakit non-infeksi.

BAB II
LANDASAN TEORI
1.      Empedocles (490–430 SM).
 Empedocles adalah seorang filsuf pra-Socrates, dokter, sastrawan, dan orator Yunani, yang tinggal di Agrigentum, sebuah kota di Sisilia Para ahli sejarah menemukan sekitar 450 baris puisi karyanya yang ditulis pada daun papirus. Dari kumpulan puisi itu diketahui bahwa Empedocles memiliki pandangan tentang berbagai isu yang berhubungan dengan biologi modern, khususnya biologi genetik dan molekuler tentang terjadinya kehidupan, fisiologi komparatif dan eksperimental, biokimia, dan ensimologi (Stathakou et al., 2007; Wikipedia, 2010emp). Lebih khusus, Empedocles adalah penggagas teori Kosmogenik Empat Elemen/ Akar Klasik (Classical Roots):
bumi, api, air, dan udara. Menurut Empedocles, tumbuhan, binatang, termasuk manusia, diciptakan dari empat elemen itu. Jika dikombinasikan dengan cara yang berbeda, maka kombinasi itu akan menghasilkan aneka ragam spesies tumbuhan dan binatang di muka bumi. Campuran keempat elemen itu merupakan basis biologi genetik dan herediter yang terwujud dalam organ atau bagian tubuh manusia (Stathakou et al., 2007; Wikipedia, 2010emp).
Di bagian lain puisi Empedocles menunjukkan, dia telah mempraktikkan epidemiologi terapan. Pada masa itu penduduk sebuah kota dekat dengan Agrigentum, yaitu Selinunta, tengah dilanda epidemi penyakit dengan gejala panas seperti malaria. Empedocles mendeteksi, penyebabnya terletak pada genangan air dan rawa yang berisi air terkontaminasi. Empedocles mengatasi masalah itu dengan membuka kanal (terusan) dan mengosongkan genangan air ke laut. Dengan membuka dua sungai besar dan menghubungkannya dengan laut, mengeringkan rawa, Empedocles berhasil menurunkan epidemi yang menjangkiti penduduk Selinunta. Empedocles berhasil membuat Selinunta sebuah kota sehat dengan sistem irigasi yang dibiayainya. Karya sanitasi ini bisa dipandang sebagai Projek Kesehatan Masyarakat pertama di muka bumi (Stathakou et al., 2007).
2.      Aristoteles (384-322 SM).
 Aristoteles adalah seorang filsuf dan ilmuwan Yunani, berasal dari Stagira. Anak seorang dokter, Aristoteles merupakan murid Plato. Tetapi berbeda dengan gurunya dalam penggunaan metode untuk mencari pengetahuan, Aristoteles berkeyakinan, seorang dapat dan harus mempercayai panca-indera di dalam mengivestigasi pengetahuan dan realitas. Aristoteles merupakan filsuf dan ilmuwan serba-bisa. Tulisannya mencakup aneka subjek. Tulisan resminya tentang anatomi manusia tidak diketemukan, tetapi banyak karyanya tentang binatang menunjukkan bahwa dia telah menggunakan pengamatan langsung dan perbandingan anatomis antar spesies melalui diseksi (penyayatan). Aristoteles memberikan fondasi bagi metode ilmiah.
Di sisi lain Aristoteles juga melakukan sejumlah kekeliruan. Dia mengkompilasi dan memperluas karya para filsuf alam Yunani sebelumnya, dan merumuskan hipotesis bahwa materi mati dapat ditransformasikan secara spontan oleh alam menjadi binatang hidup, dan proses itu bisa terjadi di mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Teori itu disebut Generasi Spontan (spontaneous generation‖, equivocal generation‖, abiogenesis), yang bertolak belakang dengan teori univocal generation‖ (teori reproduksi, biogenesis) bahwa kehidupan berasal dari reproduksi benda hidup. Sampai duaratus tahun yang lampau sebagian ilmuwan klasik percaya kepada vitalisme, suatu gagasan bahwa materi mati seperti kotoran, rumput mati, daging yang membusuk, memiliki vitalitas di dalamnya, yang memungkinkan terciptanya kehidupan sederhana‖ secara spontan (Genesis Park, 2001; Wikipedia, 2010aris).
Humoralisme. Humoralisme atau Humorisme adalah teori yang menjelaskan bahwa tubuh manusia diisi atau dibentuk oleh empat bahan dasar yang disebut humor (cairan). Keempat humor itu adalah empedu hitam, empedu kuning, flegma (lendir), dan darah (Gambar 2). Pada orang yang sehat, keempat humor berada dalam keadaan seimbang. Sebaliknya semua penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan humor, sebagai akibat dari kelebihan atau kekurangan salah Prof. dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD Sejarah Epidemiologi satu dari keempat humor itu. Defisit itu bisa disebabkan oleh uap yang dihirup atau diabsorbsi oleh tubuh (Wikipedia, 2010h).
3.      Hippocrates (377-260 SM).
Hippocrates adalah seorang filsuf dan dokter Yunani pasca-Socrates, yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern. Hippocrates telah membebaskan hambatan filosofis cara berpikir orang-orang pada zaman itu yang bersifat spekulatif dan superstitif (tahayul) dalam memandang kejadian penyakit. Hippocrates memberikan kontribusi besar dengan konsep kausasi penyakit yang dikenal dalam epidemiologi dewasa ini, bahwa penyakit terjadi karena interaksi antara host-agent-environment‘ (penjamu-agen-lingkungan). Dalam bukunya yang "On Airs, Waters and Places" (Tentang Udara, Air, dan Tempat‖) yang diterjemahkan Francis Adam, Hipoccrates mengatakan, penyakit terjadi karena kontak dengan jazad hidup, dan berhubungan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang
 (Rocket, 1999; Bannis & Assocatiates, 2001; Grammaticos dan Diamantis, 2003; Saracci, 2010).
Pandangan Hippocrates tentang kausa penyakit dipengaruhi oleh filsafat Empat Elemen dan Humoralisme Yunani kuno. Sebagai contoh, Hippocrates menegaskan peran penting iklim, sifat-sifat udara, angin, kualitas udara dan air, bagi kesehatan. Sebuah kutipan dari buku itu menyebutkan, ―Whoever wishes to investigate medicine properly should proceed thus: in the first place to consider the seasons of the year, and what effects each of them produces. Then the winds,the hot and the cold, especially such as are common to all countries, and then such as are peculiar to each locality…‖ Artinya, siapapun yang ingin mempelajari ilmu kedokteran dengan benar hendaknya melakukan langkah-langkah sebagai berikut: pertama-tama pertimbangkan musim sepanjang tahun dan efek yang dihasilkannya. Lalu angin, yang panas maupun dingin, terutama yang dialami oleh semua negara, lalu yang dialami secara khusus oleh daerah setempat (Rocket, 1999; Bannis & Assocatiates, 2001; Grammaticos dan Diamantis, 2003; Saracci, 2010).


BAB III
PEMBAHASAN
1.      Adapun beberapa pengertian Epidemi sebagai berikut :
1.      Epidemiologi adalah : pengetahuan tentang patogen dalam tingkat populasi (Van der Plank, 1963)
2.      Epidemiologi adalah : ilmu tentang populasi patogen di dalam populasi tanaman inang dan penyakit yang ditimbulkan dibawah pengaruh faktor lingkungan dan campur tangan manusia (Jurgen Kranz, 1974)
3.      Epidemiologi adalah : studi kuantitatif tentang perkembangan penyakit dalam ruang waktu tertentu sebagai akibat adanya interaksi antara populasi inang patogen yang dipengaruhi oleh faktor fisik, biotik dan manusia ( Oka, 1992).
4.      Epidemiologi biasanya menjangkau masa yang lama yang terdiri dari suatu rangkaian siklus infeksi yang terjadi secara berulang.
2.      Keunggulan dari epidemiologi  adalah Kegunaan Epidemiologi adalah : untuk memberikan pengertian tentang sifat-sifat pathogen dalam waktu dan ruang sehingga dapat memberikan pertimbangan untuk mengatur strategi pengendalian penyakit. Proses epidemiologi terjadi dalam suatu lingkungan tertentu. Yang dimaksud dengan lingkungan disini adalah semua komponen yang melingkupi proses  epidemiologi terebut. Lingkungan itu sangat kompleks namun dapat digolongkan dalam komponen ruang, waktu, biologik dan non-biologik Yang dimaksud komponen ruang adalah tempat terjadinya suatu proses epidemiologi, komponen waktu ialah berapa lama proses epidemiologi itu terjadi; komponen biologik ialah semua spesies biologic desebut juga  lingkungan biotic yang mempengaruhi proses epidemiologi itu, sedangkan komponen nonbiologik disebut juga lingkungan abiotik ialah semua benda mati yang mempengaruhi proses epidemiologi. Komponen non-biologik terdiri atas factor fisik dan faktor kimia.
Faktor fisik ialah proses yang dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang mengalir (flux). Sesuatu yang mengalir ni juga memiliki kepadatan tertentu yang dinyatakan dengan sesuatu dalam jumlah tertentu yang mengalir melalui suatu permukaan per kesatuan waktu. Misalnya aliran energi, radiasi, aliran gas (uap air, CO2, sejenis polutan),debu, spora pathogen dan lain-lain. Semua ini dapat diukur dengan metode dan alat tertentu. Proses fisik yang selalu berubah-ubah itu mempengaruhi perkembangan epidemic patogen.

Faktor kimia dari lingkungan ialah lingkungan kimia yang terdapatdi luar tanaman dan yang pada tanaman itu sendiri. Misalnya eksudat yang keluar dari bagian tanaman mengandung berbagai zat yang dapat digunakan sebagai medium oleh suat pathogen. Ekskresidari akar dapat merangsang , menekan atau membunuh nematode. Zat imia yang terdapat diluar tanaman seperti pupuk kimia, zat perangsang dan fungisida merupakan lingkungan kimia yang melingkupi tanaman. Fungisida tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman, sejenis karbamat untuk mengenalikan penyakit-penyakit daun dapat meningkatkan hasil bila tidak ada penyakit, sebab umur daun menjadi lebih panjang beberapa hari sehingga lebih banyak asimilat yang dapat mengisi biji. Fungisida yang demikian memiliki pengaruh tonik. Pupuk kimia urea yang berlebihan dapat menyebabkan tanama menjadi lebih rentan terhadap serangan patogen .
3.      Sejarah Perkembangannya di Indonesia
Lingkungan mikro yaitu : ruang tingkat sel dan organ tempat terjadinya proses epidemiologi. Misalnya phylosphere ialah lingkungan mikro dari daun, termasuk lapisa udara sangat tipis sekelilingnya setebal 1mm .
·         Lingkungan meso yaitu : lingkungan yang dibentuk oleh tanaman itu sendiri termasuk lingkungan dekat sekitarnya.
Lingkungan makro yaitu : udara di atas tanaman itu hingga jauh sampai ke troposphere (16-18 km diatas permukaan laut). Proses epidemiologi yang penting yang dapat terjadi di  lingkungan makro ini misalnya disperse jarak jauh spora. Misalnya spora penyakit karat daun kopi oleh Hemileia vastatrix datang ke Indonesia dari Sri Lanka melalui udara mengikuti aliran angin yang menghancurkan kopi Arabika pada tahun 1845. Demikian juga penyakit cacar daun teh oleh Exobasidium vexans pada tahun 1944/1945 tiba di Sri Lanka dari India dan pada tahun 1949 dari Sri Lanka sampai di Sumatra Utara dan teruske Jawa. Lingkungan makro mempengaruhi lingkungan meso dan lingku  ngan mikro. Pohon-pohon peteduh ikut mempengaruhi lingkungan meso tersebut dalam hal kelembaban nisbi dan cahaya matahari. Untuk mengendalikan penyakit cacar daun teh , pohon peteduhnya yaitu: Albizzia ditebang untuk mengurangi kelembaban dan menambah sinar matahari.

 BAB IV
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Sejarah epidemiologi dimulai pertama kali sejak zaman Hippocrates yang dikenal sebagai ahli epidemiologi pertama. Selain Hippocrates juga terdapat beberapa ahli yang berperan dalam sejarah perkembangan epidemiologi. Adapun tahapan sejarah perkembangan epidemiologi dibagi menjadi tiga yaitu tahap pengamatan, tahap perhitungan, dan tahap pengkajian. Dalam epidemiologi juga terdapat berbagai bentuk dan jenis kegiatan yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jenis penyakit yang menghasilkan satu siklus infeksi permusim

Pada umunya ada tiga jenis penyakit tanaman yang cenderung menghasilkan hanya satu siklus infeksi per musim tanam, yaitu: 1.     Penyakit...